JAKARTA - Indonesia memiliki peran strategis dalam memastikan persatuan ASEAN dengan penekanan terhadap statusnya sebagai kekuatan menengah, kata peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dewi Fortuna Anwar.

Dalam artikel berjudul “Indonesia and the ASEAN outlook on the Indo-Pacific” yang diterbitkan di edisi Januari 2020 jurnal International Affairs, Dewi Fortuna menilai bahwa posisi kunci Indonesia dalam konteks ASEAN ditegaskan dalam inisiatif ASEAN outlook on the Indo-Pacific (Pandangan ASEAN terhadap wilayah Indo-Pasifik), yang diusulkan oleh Indonesia dan kemudian diadopsi oleh pemimpin-pemimpin ASEAN dalam KTT ASEAN ke-34 di bulan Juni 2019 lalu.

Mengutip Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Dewi Fortuna menyebut bahwa pemerintah Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam mengonsep ASEAN outlook on the Indo-Pacific karena tiga alasan. “Pertama, [inisiatif tersebut] memperkokoh status Indonesia sebagai pimpinan tidak resmi ASEAN dan kekuatan menengah global. Kedua, inisiatif tersebut juga mendasari sentralitas ASEAN dan memberi kendali kepada asosiasi tersebut untuk mengelola keamanan regional dan tantangan ekonomi,” tulisnya.

“Ketiga, inisiatif tersebut juga bisa menyediakan strategi kerja sama Indo-Pasifik yang kuat untuk mengimbangi politik Kekuatan Besar melalui pandangan yang independen dari pengaruh Tiongkok, Amerika Serikat, dan pemangku kepentingan lain seperti Australia, India, dan Jepang.”

Selain itu, seiring dengan misi Presiden Joko Widodo untuk memperluas cakupan geostrategis Indonesia dari Asia-Pasifik menjadi Indo-Pasifik, Indonesia dihadapkan dengan berbagai tantangan seperti rivalitas AS-Tiongkok dan kemunculan berbagai inisiatif Indo-Pasifik dari negara-negara lain. Karena itu, menurut Dewi Fortuna, Indonesia bertekad untuk menggunakan statusnya yang signifikan di Asia Tenggara untuk mendorong ASEAN agar mempertahankan sentralitas. (MS)