JAKARTA - DPR RI telah mengesahkan Perjanjian Perdagangan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia atau Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Perjanjian perdagangan bebas tersebut diratifikasi dalam rapat paripurna yang digelar pada hari Kamis (6/2). Dalam rapat tersebut, Wakil Ketua Komisi VI DPR Martin Manurung mengatakan bahwa melalui perjanjian tersebut Indonesia harus memanfaatkan Australia sebagai salah satu sumber investasi.

“Melalui persetujuan ini, Komisi VI DPR mengharapkan agar keinginan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai global value chain tercapai, mengingat Indonesia selama ini lebih banyak mengekspor produk dalam bentuk bahan mentah,” ujar politisi Partai Nasdem tersebut seperti dikutip Kompas.com.

Menyusul disahkannya IA-CEPA, Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan berpidato di hadapan Parlemen Australia di Canberra pada hari Senin (10/2) mendatang. Jokowi merupakan presiden Indonesia kedua yang mendapat kesempatan berpidato di hadapan Parlemen Australia setelah Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2010.

Menurut peneliti LIPI Dewi Fortuna Anwar, IA-CEPA merupakan instrumen yang akan membawa stabilitas bagi hubungan antara Indonesia dan Australia yang ia sebut “seperti roller coaster”. Perjanjian tersebut, kata Dewi Fortuna, juga merupakan benteng yang melindungi kedua negara di tengah persaingan kekuatan besar dunia seperti Amerika Serikat dan Tiongkok.

“Setiap kali ada masalah [antara kedua negara], kita selalu mengatasinya dan mencoba untuk membangun mekanisme yang baik untuk merespons masalah di masa mendatang,” kata Dewi Fortuna kepada The Sydney Morning Herald, Jumat (7/2).

“Itulah mengapa perjanjian dagang ini sangat penting. Australia belum menjadi mitra dagang utama bagi Indonesia dan kedua negara belum menjajaki potensi satu sama lain.” (MS)