ACST - PT. Acset Indonusa Tbk

Rp 184

-4 (-2,13%)

JAKARTA - PT Acset Indonusa Tbk (ACST) menutup tahun 2019 dengan mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 5,96%, dari Rp3,72triliun menjadi Rp 3,95 triliun.

Berdasarkan kontribusi lini bisnis dalam perolehan pendapatan, sektor infrastruktur berkontribusi sebesar 66%, konstruksi sebesar 21%, fondasi sebesar 10% dan sektor lainnya sebesar 3%. Di akhir tahun 2019, ACSET mencatatkan rugi bersih sebesar Rp1,14 triliun. Hal ini merupakan dampak lanjutan dari keterlambatan penyelesaian proyek Contractor Pre-Financing (CPF) dan proyek struktur yang juga berdampak pada periode sebelumnya. 

Lebih lanjut, keterlambatan penyelesaian proyek menimbulkan peningkatan biaya pendanaan, biaya overhead, dan biaya lain yang dialokasikan untuk percepatan penyelesaian proyek tersebut. Di samping ini, ACSET juga mengalami penyesuaian nilai pekerjaan sehingga pendapatan dan laba proyek berjalan menjadi terkoreksi.Perolehan kontrak baru tahun 2019 adalah sebesar Rp1,7triliun. Beberapa proyek strategis yang diyakini dapat membawa added-value bagi Acset  diantaranya, Pekerjaan Sipil Pembangkit Listrik Tenaga Gas & Uap (PLTGU) Jawa 1, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Soma Karimun (2 x 25 MW) di Riau, dan proyek struktur Arumaya Residence. Hingga kini, ACSET masih mengerjakan sejumlah proyek dengan total kontrak senilai Rp4,1 triliun, yang mana terdiri dari carry over order tahun 2018 dan kontrak baru tahun 2019.

ACSET di tahun 2020 masih akan fokus pada proyek infrastruktur strategis, seperti pembangunan jalan tol landed dan elevated, pembangkit listrik dan pelabuhan. Selain itu, ACSET juga terus memberdayakan kompetensinya di bidang fondasi dan struktur dengan menargetkan proyek-proyek yang memiliki potensi untuk memberikan ruang perkembangan lebih jauh secara kompetensi dan kontribusi bagi stakeholders Perusahaan. (LM)