JAKARTA - Negara-negara anggota G20 telah diminta untuk memberi stimulus fiskal dalam jumlah yang signifikan untuk mengatasi dampak pandemi penyakit virus corona atau Covid-19 terhadap perekonomian, kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Hal tersebut merupakan salah satu isu yang diangkat dalam konferensi video menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 yang diikuti oleh Perry dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada hari Senin (23/3).

“Kebijakan-kebijakan fiskal, moneter, [dan] sektor keuangan dilakukan secara bersama secara global dengan kewenangan masing-masing negara. Seluruh negara diminta juga menyediakan stimulus fiskal yang besar di dalam mengatasi dampak dari Covid-19 [dan] dampaknya terhadap ekonomi,” papar Perry dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube resmi BI, Selasa (24/3).

Stimulus fiskal, tambah Perry, dapat mengatasi beban pihak-pihak yang terdampak oleh pandemi Covid-19, terutama UMKM dan perusahaan-perusahaan lainnya. Selain itu, bank sentral juga mengambil sejumlah langkah lainnya untuk mengatasi pandemi tersebut di tengah kepanikan pasar keuangan global, seperti menurunkan suku bunga acuan menjadi 4,5%.

“Tidak hanya dengan penurunan suku bunga, tapi juga menambah likuiditas di pasar keuangan. Bank sentral juga mengurangi beban bagi perbankan maupun sektor keuangan dalam pembiayaan ekonomi, khususnya bagi korporasi, UMKM, dan masyarakat,” ujar Perry.

Perry juga menegaskan bahwa BI, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan otoritas terkait lainnya terus berkoordinasi erat untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan selama pandemi ini.

“Kami bekerja keras untuk melakukan koordinasi secara intens, secara erat agar stabilitas makroekonomi, sistem keuangan, dan bagaimana kita mengatasi dampak Covid-19 terhadap ekonomi bisa dilakukan secara baik,” kata Perry. (MS)