JAKARTA. Sedikitnya 50 emiten anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) mengalami kesulitan arus kas (cashflow) akibat pandemi Covid-19. Emiten tersebut telah melakukan berbagai upaya penyelamatan untuk menghindari kebangkrutan.

"Lebih dari 50 perusahaan anggota AEI menyatakan tidak kuat [cashflow], yang ekstrem mereka melakukan negosiasi ke bank, merumahkan karyawan," kata Wakil Ketua Umum AEI, Bobby Gafur Umar seperti dikutip CNBC Indonesia, Senin (11/5/2020).

"Sampai satu titik perusahaan tidak kuat, terjadi gelombang PHK, ini dampaknya tidak hanya ekonomi, tapi juga sosial. Ini yang menyebabkan faktor risiko naik," imbuhnya lagi.

Situasi ketidakpastian perekonomian saat ini, kata Bobby, meningkatkan faktor risiko sehingga investor asing melakukan aksi jual bersih. Tercatat arus modal keluar menapai Rp21 triiun sejak awal tahun.

Untuk itu, dia mengatakan pemerintah harus membantu dengan memberikan likuiditas yang cukup kepada perbankan agar bank memberikan relaksasi kepada sektor-sektor bisnis yang langsung terkena dampak pandemi. (AM)