JAKARTA. Sejumlah negara emerging market di kawasan Asia Tenggara telah memangkas suku bunganya secara agresif, untuk memberi stimulus pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat, karena terdampak pandemi corona (covid-19). Namun insentitas penurunan suku bunga Indonesia, jauh di bawah negara emerging market lainnya.

Seperti diberitakan idnfinancials.com, kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan suku bunga di level 4,5% dinilai tidak agresif. Alasannya, Indonesia masih punya peluang menurunkan suku bunga menjadi 4,25% menurut sejumlah konsensus.

Menurut data yang dihimpun idnfinacials.com, BI hanya menurunkan suku bunganya 2 kali sejak awal 2020. Pemangkasan pertama yaitu pada 2 Februari sebanyak 25 bps (basis points) menjadi 4,75%. Pemangkasan terakhir pada 19 Maret sebanyak 25 bps menjadi 4,5%.

Perry Warjiyo, Gubernur BI, menyebut langkah mempertahankan pemangkasan suku bunga sebanyak 0,5% secara year to date (ytd) tersebut, demi “menjaga stabilitas pasar uang dan sistem keuangan” di tengah pandemi covid-19.

Sejumlah negara lain—yang termasuk dalam indeks emerging market Morgan Stanley Capital International (MSCI)—seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina melakukan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.

Pada 20 Mei kemarin, Thailand melalui bank sentralnya menurunkan suku bunga 25 bps menjadi 0,5%. Pemangkasan ketigakalinya ini, menambah jumlah suku bunga yang dipangkas oleh Bank of Thailand menjadi 1,25% secara ytd.

Di sisi lain, Bank Negara Malaysia (BNM) menurunkan suku bunganya 25 bps menjadi 2% pada 5 Mei kemarin. Ini adalah pemangkasan ketiga kalinya yang dilakukan Malaysia, sehingga total pemangkasan suku bunga di Malaysia tercatat sebanyak 1% secara ytd.

Kemudian Bangko Sentral ng Pilipinas, seperti halnya bank sentral Malaysia dan Thailand, menurunkan suku bunganya sebanyak 3 kali. Pemangkasan terkini suku bunga Filipina dilakukan sebesar 50 bps, ke level 2,75%. Total suku bunga yang dipangkas sebanyak 1,25% secara ytd.

Prakash Sakpal, Ekonom di ING, mengatakan keputusan BNM menandakan perlunya dukungan moneter dari pemerintah, untuk merespons tren penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dan inflasi.

"Kondisi perekonomian tengah mengahadapi penurunan yang lebih dalam, sehingga menuntut adanya akomodasi kebijakan,” kata Sakpal. Sehingga pemangkasan tersebut, menurut Sakpal, “tetap menjadi pilihan penting bagi bank sentral, terutama jika masih ada ruang untuk memangkas.” (KR)

Interest Rate Cut Table in Southeast Asia emerging market. Table: KR/idnfinancials.com
 Country

 Interest (May)

Beginning of 2020

YTD cuts (bps)

Cut Times

 Indonesia

 4,5%

5%

-50

2

 Thailand

 0,5%

1,25%

-75

3

 Malaysia

 2%

3%

-100

3

 Phillipines

 2,75%

4%

-125

3