JAKARTA. Indonesia dan Bangladesh kembali melanjutkan negosiasi Preferential Trade Agreement (PTA) secara virtual pada 21-22 Oktober 2020, setelah tertunda cukup lama akibat pandemi covid-19.

Dalam negosiasi tersebut, delegasi Indonesia diwakili oleh Ni Made Ayu Marthini, Direktur Perundingan Bilateral. Sementara delegasi Bangladesh dipimpin oleh Muhammad Shahidul Islam, Additional Secretary Kementerian Perdagangan Bangladesh.

Dalam negosiasi tersebut, delegasi kedua negara membahas draf perjanjian PTA, akses pasar, dan kebijakan Rules of Origin (ROO). “Kedua delegasi memandang penting pertemuan ini dalam mendorong penyelesaian perundingan IB-PTA karena sangat ditunggu oleh para pelaku usaha kedua negara,” kata Marthini lewat siaran pers yang diterima idnfinancials.com.

Selain itu, Marthini mengaku optimis tujuan akhir dari PTA tersebut akan membuka akses pasar yang lebih baik bagi produk unggulan atau potensial dari Indonesia ke Bangladesh. Kementerian Perdagangan mencatat, nilai perdagangan antara Indonesia dan belanda mencapai US$2,09 miliar selama 2019 lalu. Sejumlah komoditas ekspor andalan Indonesia ke Bangladesh termasuk minyak kelapa sawit, batubara, bubur kayu, semen, dan kereta api. (KR)