JAKARTA. Pemerintah Indonesia berencana menambah kapasitas pembangkit listrik berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebanyak 40 ribu megawatt (MW) selama 10 tahun ke depan.

Penambahan kapasitas ini merupakan bagian dari antisipasi atas peningkatan demand (permintaan), sesuai hasil proyeksi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Kita pastikan dari tambahan 40 ribu MW selama 10 tahun ke depan, hampir 52% berbasis EBT berbagai jenis,” kata Rida Mulyana, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM.

Mulyana menjelaskan saat ini kapasitas pembangkit listrik di Indonesia telah mencapai 73,341 MW per Juni 2021. Sebanyak 47% dari kapasitas terpasang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), kemudian 9% berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), 7% dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), 3% dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), 3% dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTU M/G), dan PLT EBT lain 3%.

Di sisi lain, Mulyana mengku penambahan pembangkit listrik EBT di Indonesia akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. “Kita harus keluar dari sini [bahan bakar fosil] untuk menghasilkan yang lebih hijau, bersih, sustain, dan ini tanggung jawab bersama,” kata mulyana.

Tidak dijelaskan berapa banyak investasi yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 40 ribu MW. Namun menurut data idnfinancials.com, Kementerian ESDM pernah memperkirakan kebutuhan investasi Indonesia mencapai US$36,95 miliar, untuk mencapai target bauran energi 23% pada 2025. (KR)