GIAA - PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk

Rp 222

0 (0%)

JAKARTA. Kementerian BUMN menargetkan pengurangan jumlah utang atau haircut dari PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebesar US$7,18 miliar atau sekitar Rp102,02 triliun dari US$9,75 miliar menjadi US$ 2,57 miliar.

Target pengurangan utang tersebut baru saja dirilis GIAA dalam proposal restrukturisasi utang kepada kreditur. Wakil Menteri II Kementerian BUMN, Kartiko Wirjoatmodjo menjelaskan restrukturisasi keuangan Garuda Indonesia adalah dengan menghilangkan ekuitas negatif saat ini yang mencapai US$2,82 miliar.

Kartiko memaparkan pada kuartal III-2021, GIAA memiliki utang sebesar US$ 9,75 miliar yang setara dengan Rp138,53 triliun. Jumlah itu akan dipangkas menjadi US$ 2,57 miliar atau Rp36,5 triliun.

Dengan menurunnya jumlah utang secara signifikan tersebut, aset GIAA akan tergerus dari US$6,92 miliar menjadi US$2,75 miliar. "Kunci utama restrukturisasi garuda adalah persetujuan kreditur. Tidak mungkin pemegang saham tanpa persetujuan kreditur bisa bergerak. Kami tekankan nasib garuda bukan hanya di pemegang sahamnya, tapi di krediturnya," kata Kartiko dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR, Selasa (9/11/2021).

Selengkapnya Kartiko merinci Garuda Indonesia saat ini memiliki utang kepada lessor atau pemberi sewa pesawat sebesar US$6,35 miliar, utang bank US$967 juta, utang terhadap OWK, sukuk, KIK EBA sebesar US$630 juta, utang vendor BUMN US$595 juta, utang vendor swasta US$317 juta, dan liabilitas lain-lain US$751 juta.

Melalui restrukturisasi, liabilitas Garuda akan menyusut menjadi US$2,57 miliar dengan rincian US$1,025 miliar utang baru yang diambil ditambah zero coupon bond, US$609 juta liabilitas lainnya, US$937 juta utang lessor. (AM)