JAKARTA. PT Angkasa Pura I akan merestrukturisasi keuangan dan operasional menyusul tingginya beban utang yang mencapai Rp35 triliun akibat banyaknya pembangunam bandara baru belakangan ini dan pandemi Covid-19.

“AP I memang kondisinya berat, dengan utang Rp35 triliun dan rate loss [kerugian rata-rata] per bulan Rp200 miliar. Kalau tidak direstrukturisasi, setelah pandemi utangnya bisa mencapai Rp38 triliun," kata Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat dengan Komisi VI DPR pekan lalu. Dia menjelaskan beban keuangan yang harus ditanggung oleh AP I cukup berat dengan banyaknya bandara-bandara baru.

Terkait restrukturisasi, Direktur Utama PT Angkasa Pura I (AP 1) Faik Fahmi mengatakan manajemen akan melakukan upaya asset recycling, intensifikasi penagihan piutang, pengajuan restitusi pajak, efisiensi operasional, seperti layanan bandara berbasis trafik, simplifikasi organisasi, penundaan program investasi serta mendorong anak usaha untuk mencari sumber-sumber pendapatan baru.

Menurut Faik, total target hasil restrukturisasi akan mencapai tambahan dana Rp3,8 triliun, efisiensi biaya sebesar Rp704 miliar, dan perolehan fund raising sebesar Rp 3,5 triliun. Dia optimistis berbagai inisiatif strategis tersebut dapat bertahan menghadapi kondisi sulit ini dan mulai bangkit pada 2022 serta dapat mencatatkan kinerja keuangan positif. (AM)