LONDON - Inggris resmi mengalami resesi untuk pertama kalinya sejak tahun 2009, dengan kontraksi ekonomi sebesar 20,4% quarter to quarter (qtq) di kuartal II (Q2) tahun 2020.

Kontraksi tersebut terutama disebabkan oleh belanja rumah tangga yang anjlok karena toko-toko dan penyedia jasa ditutup sementara untuk mencegah penyebaran virus corona (COVID-19).

Seperti diwartakan BBC, Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak mengatakan bahwa pemerintah tengah "menghadapi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya" dalam "masa-masa yang sangat sulit dan penuh ketidakpastian".

Data dari Dinas Statistik Nasional Inggris (Office of National Statistics/ONS) menunjukkan bahwa dari April hingga Juni jumlah orang yang memiliki pekerjaan menurun sebanyak 220.000 orang, sementara program subsidi pekerjaan dari pemerintah dijadwalkan akan berakhir setelah bulan Oktober.

"Saya rasa semua orang akan setuju bahwa [program subsidi pekerjaan] bukan sesuatu yang bisa berjalan untuk waktu lama," kata Sunak pada hari Rabu (12/8).

Kontraksi ekonomi Inggris di Q2 merupakan yang terbesar kedua di Eropa, setelah Spanyol yang mencatatkan kontraksi 22.7% di periode tersebut.

Menurut Sunak, perekonomian Inggris mengalami kinerja yang lebih buruk daripada kebanyakan negara Uni Eropa karena perekonomian Inggris fokus kepada sektor jasa, perhotelan dan pariwisata, serta belanja konsumen.

"Sektor-sektor tersebut memiliki porsi yang lebih besar dalam perekonomian kita dibandingkan saudara-saudara kita di Eropa," ujarnya. (MS)