LONDON - Royal Dutch Shell PLC mengumumkan akan mengurangi hingga 9.000 pegawai atau lebih dari 10% dari jumlah total pegawai di seluruh dunia sebagai bagian dari upaya transisi ke energi rendah karbon.

Menurut Shell, reorganisasi tersebut akan menghasilkan penghematan sebesar US$2-2,5 miliar setiap tahunnya pada tahun 2022. Per akhir tahun 2019, perusahaan mempekerjakan 83.000 pegawai.

Pada akhir 2022, raksasa minyak asal Inggris dan Belanda tersebut memperkirakan akan memangkas 7.000-9.000 pegawai, termasuk sekitar 1.500 orang yang sudah menyetujui pemutusan hubungan kerja (PHK) sukarela tahun ini.

"Kami memperhatikan secara seksama bagaimana kami terorganisasi, dan menurut kami perusahaan ini memiliki terlalu banyak lapisan dalam berbagai aspek," kata CEO Shell Ben van Beurden dalam wawancara internal yang dimuat di laman resmi perusahaan, Rabu (30/9).

"Kebijakan ini tidak akan mengubah nilai-nilai perusahaan, dan kami akan menjalankannya dengan kejujuran, integritas, dan rasa hormat kepada semua orang. Kami akan melakukan ini secepat mungkin, dan kami akan menunjukkan bahwa kami peduli kepada mereka yang kehilangan pekerjaan atau terdampak secara negatif."

Seperti diwartakan Reuters, setelah pengumuman tersebut harga saham Shell di Bursa Efek London naik 0,15% pada pukul 09.20 GMT (Greenwich Mean Time) di hari Rabu.

Shell memproyeksikan bahwa produksi minyak dan gas akan menurun secara signifikan menjadi sekitar 3,04 juta barel ekuivalen minyak per hari (barrels of oil equivalent per day/BOEPD) akibat hasil tambang yang lebih rendah selama pandemi virus corona (COVID-19) yang tengah berlangsung. Meskipun begitu, perusahaan juga memprediksi penjualan bahan bakar akan pulih karena beberapa negara mulai melonggarkan kebijakan karantina wilayah ( lockdown). (MS)