Indonesia dan Thailand topang permintaan emas ASEAN
SINGAPURA — Permintaan investasi emas di kawasan ASEAN tetap kuat pada kuartal II 2026, meski permintaan emas batangan dan koin secara global mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Indonesia dan Thailand menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan di kawasan.
Dikutip dari The Business Times, World Gold Council (WGC) pada Kamis (30/7) melaporkan permintaan emas batangan dan koin global turun 3% menjadi 307,1 ton pada kuartal II 2026.
Harga emas sempat menguat hampir 1% pada Rabu (29/7) setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.
Pada perdagangan Kamis (30/7) pukul 12.55 waktu Singapura, harga emas turun 0,5% menjadi US$4.047,04 per ons. Harga emas telah terkoreksi sekitar 26% dari rekor US$5.500 per ons pada Januari 2026 seiring aksi jual investor untuk meningkatkan likuiditas di tengah konflik Timur Tengah.
Di Singapura, permintaan emas batangan dan koin naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 2,3 ton. Peningkatan tersebut didorong oleh minat investor terhadap aset safe haven dan kebutuhan diversifikasi portofolio.
Indonesia menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan investasi emas tertinggi di dunia. Permintaan emas batangan dan koin melonjak 40% secara tahunan menjadi 14,5 ton pada kuartal II 2026.
WGC menyebut pelemahan nilai tukar rupiah dan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik terus memperkuat posisi emas sebagai aset penyimpan nilai.
Selain itu, pemerintah Indonesia pada awal tahun ini meluncurkan peta jalan sistem bullion nasional untuk memperkuat ekosistem perdagangan emas sekaligus mendorong pengembangan industri hilir.
Di Thailand, permintaan emas batangan dan koin naik 10% menjadi 10,9 ton pada kuartal II 2026. WGC menyebut koreksi harga emas di pasar domestik mendorong aksi beli saat harga turun (bargain hunting).
Lembaga tersebut juga mencatat semakin banyak investor muda yang berinvestasi emas, didukung oleh tingginya minat terhadap rekening tabungan emas.
Malaysia juga mencatat kenaikan permintaan emas batangan dan koin sebesar 28% menjadi 2,5 ton. Peningkatan itu terjadi meski perubahan regulasi produk emas impor sempat menimbulkan ketidakpastian di pasar.
Sebaliknya, permintaan emas di Vietnam turun 31% menjadi 6,5 ton. Menurut WGC, penurunan tersebut terutama dipicu oleh kuota impor yang terbatas sehingga harga emas di pasar domestik tetap jauh lebih tinggi dibandingkan harga internasional.
Analis Senior Pasar WGC Louise Street memperkirakan investasi emas masih akan menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan pada paruh kedua 2026.
Street memperkirakan komposisi permintaan emas akan bergeser pada paruh kedua 2026. Permintaan dari investor Asia dan transaksi over-the-counter (OTC) diperkirakan meningkat. Sebaliknya, minat investor Barat terhadap ETF emas akan lebih dipengaruhi oleh imbal hasil riil, ekspektasi suku bunga AS, dan pergerakan dolar AS.
Kepala Asia Pasifik (di luar China) WGC, Fan Shaokai, mengatakan bahwa perluasan akses produk investasi emas dan pengembangan pasar akan menjaga Asia sebagai salah satu pendorong utama permintaan emas dalam beberapa tahun ke depan.
Tren Regional
ETF berbasis emas yang tercatat di bursa Asia membukukan arus masuk tertinggi sepanjang sejarah pada semester I 2026, meski pada kuartal II masih mencatat arus keluar sebesar 15 ton.
Menurut WGC, arus keluar tersebut dipicu oleh perpindahan dana investor China ke pasar saham domestik yang menunjukkan kinerja lebih baik.
Secara global, kepemilikan ETF berbasis emas turun 45 ton pada kuartal II. Penurunan tersebut terutama terjadi pada Juni, ketika investor global mengurangi kepemilikan hingga 74 ton.
Permintaan perhiasan emas di kawasan Asia juga masih tertekan akibat tingginya harga emas yang mengurangi daya beli dan mendorong konsumen beralih ke produk investasi.
Di Singapura, konsumsi perhiasan emas turun 7% menjadi 1,4 ton. Tren serupa juga terjadi di sejumlah negara ASEAN lainnya.
WGC juga mencatat bahwa perhiasan berkadar emas lebih rendah semakin diminati di kawasan karena konsumen menyesuaikan pola belanja mereka.
Street memperkirakan bank sentral tetap akan menjadi pembeli emas dalam jumlah besar, meski lajunya diperkirakan lebih lambat dibandingkan dengan empat tahun terakhir.
Pada kuartal II, bank sentral dan lembaga resmi lainnya menambah cadangan emas sebesar 288,9 ton, naik 62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Survei Central Bank Gold Reserves Survey, yang diterbitkan oleh WGC pada Juni 2026 menunjukkan bahwa 45% responden berencana menambah cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan. (ARF)