TOKYO — Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan pemerintah tidak akan menerbitkan utang baru untuk membiayai pemangkasan pajak sementara demi menjaga kepercayaan pasar. Pemerintah juga memastikan tarif pajak penjualan makanan akan dipangkas menjadi 1% mulai April 2027 dan dikembalikan menjadi 8% dua tahun kemudian.

Dikutip dari FXStreet, Takaichi mengatakan pemerintah akan mencari sumber pendanaan lain untuk membiayai kebijakan tersebut, termasuk memanfaatkan cadangan devisa, penerimaan negara bukan pajak, serta reformasi belanja. Ia menegaskan seluruh kebijakan itu akan dijalankan tanpa menambah penerbitan utang pemerintah.

Pernyataan tersebut sempat mendorong pelemahan pasangan dolar AS terhadap yen. Namun, pergerakan itu dinilai lebih dipengaruhi oleh melemahnya indeks dolar AS (DXY). Hingga akhir sesi Eropa, USD/JPY kembali bergerak tipis lebih tinggi di kisaran 163,47 setelah memangkas pelemahan sebelumnya.

Di sisi lain, dukungan publik terhadap pemerintahan Takaichi terus menunjukkan pelemahan.

Berdasarkan hasil survei harian Yomiuri, tingkat persetujuan terhadap pemerintahan Takaichi turun menjadi 57% pada Juli 2026, dari 69% pada Juni 2026. Ini menjadi pertama kalinya tingkat persetujuannya berada di bawah 60% sejak menjabat sebagai perdana menteri.

Kenaikan biaya hidup dinilai menjadi penyebab utama turunnya dukungan masyarakat. Survei yang dilakukan pada 24-26 Juli 2026 juga menunjukkan 71% responden tidak puas terhadap upaya pemerintah mengendalikan biaya hidup. (ARF)

 

Tambahkan
sebagai sumber pilihan di Google