Negara Teluk desak China tekan Iran agar buka Selat Hormuz
JAKARTA - Negara-negara Teluk Arab mulai mengandalkan China untuk memanfaatkan pengaruh ekonominya terhadap Iran di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Seperti dikutip Reuters, menurut sejumlah sumber kawasan, negara-negara Teluk semakin frustrasi karena perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari tidak hanya melemahkan rival regional mereka, tetapi juga mengganggu ekspor energi serta meningkatkan ancaman terhadap keamanan kawasan.
Dengan Iran dan kelompok sekutunya mengancam jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz, negara-negara Teluk meminta China memainkan peran diplomatik yang lebih besar. Mereka menilai konflik tersebut menunjukkan keterbatasan pengaruh Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas kawasan.
Sebagai mitra dagang terbesar Iran sekaligus pembeli utama minyak dari negara-negara Teluk, China dinilai memiliki posisi unik untuk mendorong penyelesaian konflik.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi telah melakukan serangkaian komunikasi dengan berbagai negara, sementara utusan khusus China, Zhai Jun, mengunjungi sejumlah ibu kota negara Teluk dan Iran untuk mendorong terciptanya gencatan senjata.
"Tiongkok terus menjalin komunikasi erat dengan semua pihak serta secara konsisten berupaya menghentikan pertempuran dan mendorong perdamaian," demikian pernyataan kementerian luar negerinya menanggapi permintaan komentar.
Seorang sumber dari kawasan Teluk mengatakan hubungan ekonomi yang erat membuat isu sensitif antara negara-negara Teluk dan China dibahas melalui jalur diplomasi yang tertutup.
"Terdapat rasa saling menghormati yang besar antara kawasan Teluk dan Tiongkok, dan mereka merupakan mitra dagang utama, sehingga setiap persoalan dibahas dengan cara yang sangat tertutup," ujar salah satu sumber dari kawasan Teluk.
Meski demikian, Beijing hingga kini belum secara terbuka menekan Iran terkait ancaman terhadap jalur pelayaran internasional. Sikap tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana China bersedia menggunakan pengaruhnya demi menjaga stabilitas kawasan dan kelancaran ekspor energi.
"Pihak Tiongkok berupaya untuk lebih terlibat dan lebih banyak membantu," ujar sumber kedua dari kawasan Teluk.
"Namun, ternyata pengaruh Tiongkok tidak sebesar yang kita kira entah hal itu disebabkan oleh kurangnya kemauan atau kurangnya kapasitas, itu masih bisa diperdebatkan. Yang tampaknya terjadi ketika Amerika turut campur adalah bahwa kalkulasi negara adidaya itu mendominasi segalanya."
Analis China di Washington Institute, Henry Tugendhat, menilai prioritas utama Beijing adalah menjaga hubungan dengan seluruh pihak di Timur Tengah, bukan mengambil posisi yang berpotensi merusak kepentingan diplomatiknya.
Setelah Amerika Serikat terlibat langsung dalam konflik, kalkulasi China juga semakin dipengaruhi rivalitas strategis dengan Washington.
Sumber yang mengetahui pembahasan internal China menilai negara-negara Teluk dapat memperoleh investasi, teknologi, hingga drone dari Beijing, namun belum tentu mendapatkan pengaruh politik China yang sepenuhnya terlepas dari dinamika hubungannya dengan Amerika Serikat.
"Pemerintah negara-negara Teluk dapat membeli teknologi, investasi, dan pesawat nirawak (drone) dari Tiongkok, namun hal yang tidak dapat mereka beli adalah daya tawar Tiongkok yang beroperasi secara independen dari (hubungannya dengan) Washington," ujar sebuah sumber yang mengetahui langsung pembahasan pihak Tiongkok.
Di sisi lain, China terus memperluas perannya melalui diplomasi kawasan. Setelah berhasil memediasi normalisasi hubungan Arab Saudi dan Iran pada 2023, Beijing kini juga mendorong Pakistan menjadi mediator antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali pembicaraan damai.
China juga dilaporkan menjalin komunikasi langsung dengan kelompok Houthi di Yaman guna menjamin keamanan kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan China di Laut Merah.
Namun, para analis menilai hasil diplomasi Beijing sejauh ini masih terbatas pada perlindungan kepentingan ekonominya sendiri.
China dinilai tetap menghindari komitmen keamanan yang mengikat di luar kawasan Asia Timur dan lebih memilih memperkuat hubungan melalui perdagangan, investasi, serta penjualan teknologi dan persenjataan.
Beijing juga menegaskan tidak berniat menggunakan kekuatan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pemerintah China menilai penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog dan diplomasi, sekaligus menjaga keamanan serta kelancaran arus perdagangan internasional yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.(DH)