JAKARTA - Serangan drone yang menghantam dua kapal gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, memunculkan ancaman baru terhadap keamanan jalur pelayaran Terusan Suez di tengah eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Seperti dikutip Reuters, Pemerintah Mesir menyatakan hasil investigasi awal menemukan sebuah drone tak dikenal memicu kebakaran pada dua kapal di Pelabuhan Damietta, Rabu (30/7). Pelabuhan tersebut berada di dekat Terusan Suez yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Laut Merah.

Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, sejumlah sumber perdagangan menyebut drone menghantam kapal penyimpanan gas milik AS Energos Winter, sehingga memicu kebakaran yang kemudian merembet ke kapal lain.

Insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah militer AS mengumumkan serangan terhadap pusat komando dan fasilitas drone Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Operasi tersebut merupakan respons atas serangan rudal Teheran terhadap pasukan AS di kawasan.

Media pemerintah Iran yang mengutip IRGC melaporkan serangan AS menewaskan tiga warga sipil dan melukai dua anak-anak di Pulau Qeshm. Selain itu, tiga anggota IRGC dilaporkan tewas di Provinsi Zanjan.

Sementara itu, Gubernur Khuzestan mengatakan dua kompleks asrama mahasiswa di Kota Ahvaz mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Sebagai balasan, IRGC mengklaim telah menyerang Pangkalan Militer Azraq di Yordania yang disebut menjadi lokasi penempatan jet tempur F-35 milik AS. Namun, militer AS membantah klaim tersebut.

"Semua rudal dan pesawat nirawak berhasil dicegat atau gagal mencapai sasaran," kata Komando Pusat AS.

Dalam beberapa pekan terakhir, pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania menjadi sasaran utama serangan Iran. Militer Yordania sebelumnya menyatakan berhasil mencegat lima rudal Iran.

Iran juga mengklaim menyerang aset militer AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait. Di saat yang sama, Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan sebuah bangunan milik perusahaan China di wilayah utara negara itu terkena serangan Iran, menewaskan satu pekerja dan menyebabkan kerusakan signifikan.

Houthi Perluas Medan Konflik

Perang yang dimulai pada Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran kini memasuki babak baru. Gencatan senjata sementara yang sempat tercapai pada Juni runtuh akibat kembali memanasnya konflik di Selat Hormuz, jalur strategis yang diklaim berada di bawah kendali Iran.

Dalam perkembangan terbaru, Arab Saudi untuk pertama kalinya secara terbuka bergabung dengan operasi militer bersama AS pada Rabu (30/7). Riyadh melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok pro-Iran di Irak timur sebagai respons atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi yang diluncurkan dari wilayah Irak.

Berdasarkan penilaian Arab Saudi dan mitra regionalnya, kelompok Houthi Yaman menjalankan serangan tersebut dari wilayah Irak dengan dukungan kelompok-kelompok bersenjata Irak yang bersekutu dengan Iran.

Eskalasi konflik di Irak dan Mesir meningkatkan risiko keterlibatan lebih banyak negara Timur Tengah. Pekan lalu, Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi yang mengancam jalur Laut Merah sebagai rute alternatif ekspor minyak Saudi menuju Asia.

Meningkatnya ancaman terhadap kapal-kapal komersial mendorong pasar asuransi maritim London memperluas kategori wilayah berisiko tinggi di Laut Merah hingga mencakup kawasan pesisir yang berdekatan dengan pelabuhan Arab Saudi.

Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington akan memberikan respons keras atas serangan rudal Iran terhadap pasukan AS. Meski demikian, pemerintah AS menyatakan tetap membuka peluang penyelesaian damai untuk mengakhiri konflik yang terus mengguncang pasar energi dan keuangan global.

Iran pada Rabu mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang disebut tidak memperoleh izin.

Di sisi lain, sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) yang dikendalikan QatarEnergy tercatat berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Kamis (31/7). Data pelacakan kapal menunjukkan kapal tersebut menjadi yang pertama meninggalkan jalur tersebut sejak 11 Juli. Kantor berita Fars melaporkan Iran memberikan izin bagi kapal tersebut untuk melintas.

Sementara itu, Oman menawarkan skema pengelolaan Selat Hormuz yang didukung negara-negara Teluk, termasuk mekanisme pungutan sukarela bagi kapal yang melintas.

Teheran menolak proposal tersebut. Namun, kantor berita semi-resmi ILNA mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei yang menyatakan pembahasan dengan Oman terkait Selat Hormuz masih terus berlangsung.

Di tengah meningkatnya tekanan militer, Iran juga disebut akan menerima pengiriman pertama sistem peluncur rudal pertahanan udara portabel buatan China dalam beberapa pekan mendatang. Total pengiriman diperkirakan mencapai hingga 400 unit.

Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut, sementara Kementerian Luar Negeri China membantah adanya kesepakatan pengiriman senjata itu.(DH)

Tambahkan
sebagai sumber pilihan di Google