Dolar AS melemah, harga emas kembali dekati US$4.100
JAKARTA - Harga emas dunia bergerak mendekati level US$4.100 per troy ons pada perdagangan Kamis (31/7) setelah dolar Amerika Serikat melemah di tengah dugaan intervensi otoritas Jepang untuk menopang nilai tukar yen.
Di sisi lain, pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta eskalasi konflik di Timur Tengah.
Seperti dikutip Fxstreet, Emas spot (XAU/USD) diperdagangkan di kisaran US$4.095 per troy ons, pulih dari posisi terendah intraday di US$4.028. Kenaikan logam mulia terjadi seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun sekitar 0,9% ke level 99,90, terendah sejak 17 Juni.
Tekanan terhadap dolar juga dipicu data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi mulai mereda. Indeks Core Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Juni hanya naik 0,1% secara bulanan, lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 0,2%.
Sementara itu, inflasi inti tahunan melambat menjadi 3,3% dari 3,4%, sedangkan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II hanya mencapai 1,5% secara tahunan, di bawah ekspektasi 2,1%.
Meski dolar melemah, kenaikan harga emas masih terbatas. Pasar tetap mewaspadai potensi inflasi yang dipicu konflik Timur Tengah, terutama akibat risiko lonjakan harga energi. Sikap Federal Reserve yang masih cenderung ketat juga membatasi penguatan emas.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, mempertahankan pandangan keras terhadap inflasi, sementara tiga anggota bank sentral memberikan suara berbeda dengan mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September kini mencapai sekitar 55%.
Di sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat mengumumkan operasi serangan baru terhadap Iran.
"gelombang besar pemogokan"
Serangan tersebut disebut sebagai respons atas serangan rudal balistik Iran terhadap pasukan AS di Yordania, yang kembali memicu aksi saling serang di kawasan tersebut.
Dari sisi teknikal, pergerakan emas masih bertahan dalam kisaran US$4.000-US$4.200 per troy ons yang telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 48, mencerminkan momentum yang masih netral, sementara indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) tetap berada di area positif.
Level US$4.000 masih menjadi area dukungan psikologis terpenting. Apabila harga menembus level tersebut, tekanan jual berpotensi membawa emas menuju kisaran US$3.969. Sebaliknya, jika mampu menembus US$4.200, emas berpeluang melanjutkan reli dan membuka ruang kenaikan yang lebih tinggi.(DH)