JAKARTA - Departemen Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) melakukan intervensi untuk mendukung nilai tukar yen pada Jumat melalui pembelian langsung mata uang tersebut.

Langkah itu membuat AS bergabung dengan Jepang dalam upaya mengangkat nilai yen yang berada di dekat level terendah dalam hampir 40 tahun.

Federal Reserve Bank of New York pada Jumat (31/07/26), seperti dikutip Reuters dari Financial Times, disebut menjual euro untuk membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS melalui Goldman Sachs dan Morgan Stanley.

Sebelumnya pada hari yang sama, Departemen Keuangan AS telah memberi tahu sejumlah bank bahwa pihaknya mungkin akan melakukan intervensi di pasar yen. "Dan meminta mereka untuk bersiap menghadapi tindakan selanjutnya," kata seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada  Reuters.

Kabar mengenai potensi intervensi tersebut membantu mendorong penguatan yen terhadap dolar AS pada Jumat.

Data bank sentral Jepang juga menunjukkan bahwa sehari sebelumnya Jepang kemungkinan telah menjual hingga US$58,97 miliar untuk membeli yen pada Kamis (30/7/26), menandakan upaya berulang untuk membendung pelemahan mata uang tersebut.

Departemen Keuangan AS, Federal Reserve Bank of New York, dan Morgan Stanley belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar di luar jam kerja. Sementara itu, Goldman Sachs menolak berkomentar.

Kabar mengenai kemungkinan intervensi oleh Departemen Keuangan AS langsung memperkuat yen di pasar.

Pada perdagangan Jumat, yen berada di level 159,09/US$, setelah sehari sebelumnya sempat melemah hingga 163,65/US$.

Hingga kini belum diketahui mekanisme intervensi yang akan digunakan Treasury AS.

Federal Reserve sendiri telah mempertahankan fasilitas dollar pertukaran likuiditas dengan Bank of Japan (BOJ) dan empat bank sentral utama lainnya sejak 2013.

Diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, menolak mengomentari secara langsung aksi intervensi.

Namun, ia mengisyaratkan adanya keterlibatan AS dalam upaya menahan pelemahan yen, termasuk melalui rate checks atau permintaan kuotasi indikatif US$/yen kepada pelaku pasar yang umumnya menjadi sinyal awal sebelum intervensi dilakukan.

Atsushi Mimura menambahkan bahwa dukungan AS terhadap Jepang melampaui dukungan psikologis.

Analis strategi mata uang MUFG di London, Lee Hardman, menilai laporan Reuters mengenai pemberitahuan treasury kepada perbankan memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi intervensi lanjutan.

"Laporan Reuters tentang pemberitahuan Departemen Keuangan kepada bank-bank mengenai potensi intervensi sesuai dengan pandangan di pasar bahwa Federal Reserve New York telah melakukan pengecekan suku bunga, sehingga menambah kegelisahan para pelaku pasar bahwa mungkin ada intervensi lebih lanjut," katanya.

"Ini jelas membantu mendukung gagasan bahwa ada risiko intervensi yang mungkin terjadi."

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent melalui unggahan di media sosial X mengatakan Treasury memiliki hubungan yang kuat dan koordinasi yang erat dengan otoritas Jepang, meski tidak mengonfirmasi persiapan intervensi tersebut.

Ia juga menyatakan akan bertemu Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 yang akan digelar di Asheville, North Carolina, pada akhir Agustus.

Menurut Bessent, perekonomian Jepang terus menunjukkan kinerja yang baik di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Takaichi, Gubernur Ueda, dan Dewan Bank of Japan, yang telah menunjukkan komitmen kuat terhadap stabilitas moneter dan keuangan.

Sehari sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox Business Network, Bessent menyebut yen berada jauh di bawah nilai wajarnya. Ia menilai kebijakan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memperkuat fundamental ekonomi negara tersebut.

Bessent mengatakan bahwa yen tampaknya sangat undervalued (di bawah nilai wajarnya).

Ia juga menambahkan bahwa Amerika berpendapat volatilitas berlebih pada yen tidaklah sehat dan nilai yen telah jauh melampaui apa yang bisa disebut sebagai harga keseimbangan.

Terakhir kali Departemen Keuangan AS melakukan intervensi langsung untuk mendukung yen terjadi pada 2011 melalui aksi terkoordinasi negara-negara G7 setelah gempa bumi dan tsunami besar melanda Jepang.

Selain Jepang, Treasury AS juga pernah melakukan intervensi di pasar peso Argentina menjelang pemilu parlemen tahun lalu. Pemerintah AS saat itu menyediakan fasilitas swap mata uang senilai US$20 miliar bagi pemerintahan Presiden Javier Milei untuk membantu menstabilkan mata uang dan pasar obligasi dolar Argentina.

Sebagian dukungan tersebut berasal dari Exchange Stabilization 

Tambahkan
sebagai sumber pilihan di Google