Jepang-AS konfirmasi intervensi bersama dukung penguatan yen
TOKYO — Yen Jepang menguat terhadap dolar AS setelah pemerintah Jepang dan Amerika Serikat mengonfirmasi telah melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing. Kedua negara tersebut juga mengisyaratkan siap mengambil langkah serupa jika pelemahan yen kembali berlanjut.
Dikutip dari FXStreet, pasangan USD/JPY turun ke kisaran 156,45 pada awal perdagangan sesi Eropa, Senin (3/8). Penguatan yen terjadi di tengah spekulasi bahwa otoritas Jepang kembali turun ke pasar setelah melakukan intervensi bersama dengan Amerika Serikat pekan lalu.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan bahwa Jepang dan Amerika Serikat telah melakukan intervensi dengan membeli yen secara terkoordinasi. Menurutnya, pemerintah juga tidak akan ragu untuk mengambil langkah lanjutan apabila diperlukan.
Katayama menyebut intervensi bilateral tersebut dilakukan untuk menghentikan pelemahan yen yang sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam 40 tahun.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, mengatakan bahwa Washington siap kembali melakukan intervensi apabila diperlukan. Presiden Donald Trump juga menyatakan pemerintah AS membantu memperkuat yen sebagai bentuk persahabatan dengan Jepang sekaligus untuk mendukung stabilitas ekonomi global.
Analis Goldman Sachs memperkirakan otoritas Jepang berpotensi kembali melakukan intervensi dalam beberapa hari ke depan apabila yen kembali melemah.
"Intervensi tetap menjadi instrumen yang efektif untuk memberi waktu hingga faktor fundamental bergerak ke arah yang lebih positif," tulis tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Kamakshya Trivedi.
Di sisi lain, ketidakpastian di Timur Tengah masih membayangi pasar meski muncul harapan tercapainya terobosan dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.
Bloomberg melaporkan bahwa Trump mengatakan putaran baru pembicaraan dengan Iran akan dimulai pada Senin sore setelah ia membatalkan rencana serangan terhadap negara tersebut. Keputusan itu diambil antara lain menyusul permintaan sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi.
Namun, pejabat Iran membantah pernyataan Trump yang menyebut Teheran meminta jeda. Menurut mereka, klaim tersebut "tidak lebih dari kebohongan baru."
Analis menilai setiap eskalasi baru di Timur Tengah berpotensi kembali mendorong penguatan dolar AS terhadap yen dalam jangka pendek.
Sementara itu, analis BNY Mellon menilai pernyataan para pejabat mulai menunjukkan dukungan yang lebih kuat terhadap penguatan yen. Scott Bessent sebelumnya juga menyebut yen masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) dan seharusnya masih berpotensi menguat, meski volatilitas yang berlebihan tetap tidak sehat bagi pasar.
BNY Mellon menilai kombinasi intervensi yang lebih agresif dan sinyal kebijakan yang lebih tegas dari Bank of Japan (BOJ) dapat memperkuat kepercayaan pasar terhadap aset berdenominasi yen. Menurut mereka, langkah tersebut juga menunjukkan otoritas Jepang siap menahan pelemahan mata uangnya lebih lanjut. (ARF)