BlackRock: Risiko ganda ancam investor di saham dan obligasi
JAKARTA – Seorang petinggi BlackRock memperingatkan potensi koreksi pasar saham dalam waktu dekat apabila inflasi kembali meningkat.
Dalam wawancara bersama Bloomberg yang dikutip The Daily Hodl (28/7), Rick Rieder, Chief Investment Officer untuk pendapatan tetap global di BlackRock, mengatakan bahwa kondisi fiskal AS saat ini mengharuskan pemerintah menerbitkan utang dalam jumlah besar.
Penerbitan utang secara masif, lanjutnya, membuat imbal hasil obligasi jangka panjang sulit naik, sehingga obligasi pemerintah tenor di atas 10 tahun menjadi kurang menarik.
“AS akan menerbitkan banyak utang. Bagian long-end (obligasi jangka panjang) menjadi tempat yang sulit untuk berinvestasi,” ujarnya.
Dulu, lanjut dia, obligasi jangka panjang dapat digunakan untuk lindung nilai (hedging) saat pasar saham melemah. Namun, kondisi kini berubah.
“Jika inflasi lebih tinggi dari yang saya perkirakan, maka saham dan obligasi jangka panjang bisa terpukul sekaligus,” jelasnya.
Rieder menyebut bahwa dalam situasi seperti ini, investor lebih memilih obligasi jangka pendek yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Ia juga menekankan bahwa beban utang AS hanya dapat terkelola jika pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal melampaui tingkat penarikan utang, dan itu membutuhkan dorongan produktivitas besar, salah satunya dari teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
“Satu-satunya cara mengurangi leverage ekonomi adalah mengalahkan utang dengan pertumbuhan yang lebih cepat,” katanya.
Rieder memperkirakan AS bisa mencapai PDB nominal di kisaran 4,5%-5% jika suku bunga turun ke 3%. “Dengan itu, Anda bisa mulai mengurangi leverage, tapi itu akan memakan waktu sangat lama.”
Ia juga mengakui bahwa pembiayaan utang ke depan akan lebih bergantung pada sumber domestik, karena investor internasional sudah tak lagi menyerap utang sebanyak sebelumnya.
“Selama kita tetap tumbuh, maka kita bisa melewatinya,” ujar Rieder. (DH)