AS blokade Hormuz, 6 kapal dagang putar balik
JAKARTYA - Militer AS menyatakan tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade terhadap Iran dalam 24 jam pertama operasi di Selat Hormuz. Sebanyak enam kapal dagang mengikuti perintah untuk berbalik arah.
Blokade diberlakukan terhadap seluruh kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran, termasuk di kawasan Teluk dan Teluk Oman. Operasi ini dimulai sehari sebelumnya atas perintah Presiden Donald Trump setelah perundingan damai AS - Iran gagal.
"Selama 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS dan enam kapal dagang mematuhi arahan dari pasukan AS untuk berbalik arah dan memasuki kembali pelabuhan Iran di Teluk Oman," kata Komando Pusat militer AS dalam pernyataan tersebut, dikutip reuters.
Lebih dari 10.000 personel militer AS, didukung belasan kapal perang dan puluhan pesawat, dikerahkan untuk menegakkan blokade. Militer menegaskan operasi berlaku untuk semua kapal tanpa memandang negara asal.
"Blokade tersebut diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran," tambah pernyataan itu.
Dalam pemberitahuan kepada pelaut, militer AS menegaskan setiap kapal yang memasuki atau keluar dari area blokade tanpa izin berisiko dicegat, dialihkan, atau ditangkap. Namun, pengiriman kemanusiaan seperti makanan dan obat-obatan tetap diizinkan dengan inspeksi.
Blokade ini meningkatkan ketidakpastian di Strait of Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Harga minyak sempat melonjak di atas US$100 per barel sebelum kembali melemah seiring harapan negosiasi lanjutan.
Langkah ini menyusul kegagalan pembicaraan untuk mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran yang telah berlangsung enam minggu. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, ancaman Iran terhadap pelayaran mendorong harga minyak global naik sekitar 50%.
Analis menilai blokade ini sebagai operasi militer besar yang berpotensi memicu respons baru dari Teheran dan menambah tekanan pada gencatan senjata yang rapuh.(DH)