Defisit anggaran Arab Saudi susut 73% meski produksi minyak tertekan
RIYADH – Defisit anggaran Arab Saudi menyusut hampir tiga perempat pada kuartal II-2026, didorong lonjakan harga minyak di tengah perang yang justru menekan produksi minyak dan memicu kontraksi ekonomi terdalam sejak pandemi.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan Arab Saudi, defisit anggaran pada periode April–Juni mencapai 34,3 miliar riyal (sekitar US$9,1 miliar), turun dari 125,7 miliar riyal pada kuartal pertama.
Seperti dikutip OILPRICE, pendapatan minyak meningkat 28% dibandingkan kuartal sebelumnya seiring kenaikan harga minyak mentah, sementara belanja pemerintah turun 3,5%.
Di sisi lain, produksi minyak Arab Saudi masih berada jauh di bawah level sebelum perang setelah serangan Iran dan penutupan Selat Hormuz mengganggu ekspor minyak.
Akibatnya, sektor minyak mengalami kontraksi hampir 25% pada kuartal II dan menyeret perekonomian secara keseluruhan ke dalam pelemahan.
Meski demikian, Arab Saudi tetap mampu mengekspor sebagian produksinya dengan mengalihkan pengiriman melalui jaringan pipa menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Langkah itu memungkinkan kerajaan memperoleh harga jual yang lebih tinggi meski volume ekspor menurun.
Harga minyak Brent diperdagangkan mendekati US$90 per barel dan telah naik lebih dari 47% sejak awal tahun.
Kendati defisit menyusut, anggaran Arab Saudi masih belum seimbang.
EFG Hermes memperkirakan kerajaan kini membutuhkan harga minyak sekitar US$115 per barel agar anggaran dapat berimbang, meningkat dari sekitar US$96 per barel pada tahun lalu.
Belanja pemerintah pada kuartal II juga masih 11% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya karena tingginya pengeluaran pada awal konflik.
Pemerintah Arab Saudi sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa sejumlah proyek Vision 2030 dapat ditunda, diperkecil, atau bahkan dibatalkan apabila kondisi fiskal tidak lagi mendukung.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan kenaikan harga minyak akan lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan volume ekspor sehingga defisit fiskal Arab Saudi menyempit menjadi 3,7% dari PDB tahun ini dan 3,1% dari PDB pada 2027. (DK)