Intervensi AS dan Jepang dinilai tak cukup redam tekanan terhadap yen
SINGAPURA — Intervensi bersama Amerika Serikat dan Jepang di pasar valuta asing meningkatkan tekanan terhadap pelaku pasar yang bertaruh pada pelemahan yen. Namun, sejumlah analis menilai penguatan mata uang Jepang sulit bertahan tanpa kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari Bank of Japan (BOJ).
Seperti dikutip Reuters, intervensi bersama tersebut merupakan yang pertama dalam 15 tahun terakhir. Langkah tersebut dinilai mengirim sinyal kuat kepada pasar bahwa Washington dan Tokyo memiliki kepentingan yang sama untuk menghentikan pelemahan yen.
Meski demikian, analis menilai faktor utama yang menentukan arah yen tetap berasal dari kebijakan moneter BOJ. Selisih suku bunga yang masih lebar antara Jepang dan Amerika Serikat dinilai masih menjadi penyebab utama lemahnya mata uang Jepang.
Sebelumnya, Jepang menggelontorkan sekitar US$70 miliar pada akhir April hingga awal Mei untuk menopang nilai tukar yen. Namun, penguatan yang terjadi hanya berlangsung sementara. Pola serupa juga terjadi pada intervensi yang dilakukan Jepang secara sepihak pada 2022 dan 2024.
Pada perdagangan Asia, Senin (3/8), yen menguat sekitar 1% hingga menyentuh level 155,20 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan yang terkuat dalam hampir tiga bulan, setelah sempat menyentuh level terlemah dalam 40 tahun di 163,99 per dolar AS pada Juli 2026.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor dua tahun juga naik menjadi 1,54%, level tertinggi sejak Mei 1995. Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan BOJ.
Pasar Menanti BOJ
Analis menilai intervensi bersama telah memicu penutupan posisi jual (short covering) yen dalam skala besar. Langkah tersebut juga meningkatkan ekspektasi bahwa BOJ akan mempercepat kenaikan suku bunga.
"Kenaikan suku bunga yang mengejutkan dari BOJ akan membantu mengubah ekspektasi pasar terhadap keseriusan bank sentral dalam memperketat kebijakan moneternya," kata Kepala Ekonom Asia HSBC, Fred Neumann.
Menurutnya, intervensi bersama AS dan Jepang memang mengirimkan sinyal kuat kepada pasar. Namun, tanpa dukungan kebijakan moneter, dampaknya terhadap penguatan yen kemungkinan hanya bersifat sementara.
Data pasar menunjukkan spekulan masih memegang posisi jual bersih terhadap yen senilai sekitar US$12,5 miliar. Posisi tersebut dipicu oleh gejolak harga minyak akibat perang Iran serta masih lebarnya selisih suku bunga Jepang dengan negara-negara maju lainnya.
Kepala Strategi Pasar Global BBH, Elias Haddad, mengatakan sejarah menunjukkan intervensi bersama biasanya lebih efektif dibandingkan dengan langkah sepihak. Meski begitu, perubahan tren nilai tukar tetap membutuhkan waktu.
Sementara itu, Manajer Portofolio BGIM, Carol Lye, menilai dukungan terbuka dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, terhadap penguatan yen meningkatkan kredibilitas intervensi kali ini.
Bessent juga menyatakan pemerintah AS mempertimbangkan peningkatan kapasitas fasilitas repo FIMA milik Federal Reserve yang menyediakan likuiditas dolar bagi bank sentral asing.
Menurut Lye, langkah tersebut berpotensi memperbesar kemampuan Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Nomura memperkirakan Jepang masih memiliki ruang untuk menggelontorkan hingga 30 triliun yen guna mempertahankan nilai tukar. Jika berhasil mendorong yen menembus level 154 per dolar AS, penguatan mata uang tersebut berpotensi berlanjut hingga mendekati 150 per dolar AS.
Meski demikian, sebagian analis tetap meragukan daya tahan penguatan yen jika tidak diikuti langkah lanjutan dari BOJ.
Pada Jumat (31/7), BOJ untuk pertama kalinya memperingatkan bahwa inflasi inti berpotensi melampaui targetnya. Bank sentral juga menegaskan pembahasan kebijakan berikutnya akan lebih berfokus pada risiko kenaikan harga, sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga secepatnya pada September.
Strategis Mata Uang HSBC, Joey Chew dan Paul Mackel, menilai dolar AS terhadap yen masih sulit memasuki tren penurunan tanpa kenaikan suku bunga BOJ yang lebih cepat. Menurut mereka, pemerintah Jepang juga perlu menunjukkan dukungan yang lebih kuat terhadap yen dan mengurangi ambisi ekspansi fiskal.
Di sisi lain, Strategis Valas BNP Paribas Chandresh Jain menilai penguatan yen justru menjadi peluang bagi investor untuk kembali mengambil posisi beli dolar AS terhadap yen melalui instrumen opsi.
Menurutnya, pelemahan yen kemungkinan masih akan berlanjut. Namun, pergerakannya diperkirakan tertahan di sekitar level 163,5 per dolar AS. (ARF)