TOKYO — Intervensi bersama Amerika Serikat dan Jepang untuk menopang nilai tukar yen pekan lalu ternyata merupakan hasil koordinasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Kesamaan kepentingan kedua negara terhadap stabilitas nilai tukar menjadi landasan utama lahirnya kerja sama yang tergolong langka tersebut.

Dikutip dari Reuters, dukungan terbuka Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, terhadap penguatan yen memberi pemerintah Jepang amunisi baru untuk menghadapi aksi spekulatif yang terus menekan mata uangnya.

Bagi Jepang, pelemahan yen telah mendorong kenaikan harga impor dan memperburuk taraf hidup masyarakat. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Sementara bagi Amerika Serikat, yen yang terlalu lemah mengurangi daya saing tarif impor yang menjadi andalan Presiden Donald Trump. Di sisi lain, gejolak di pasar obligasi Jepang dikhawatirkan ikut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Kesamaan kepentingan tersebut membuat komunikasi kedua negara terkait nilai tukar menjadi semakin intensif. Isu yang sebelumnya sensitif secara diplomatik kini menjadi salah satu fokus pembahasan antara Washington dan Tokyo.

Menurut seorang pejabat pemerintah Jepang yang mengetahui persiapan tersebut, kemungkinan keterlibatan AS dalam intervensi yen sudah dibahas sejak Januari 2026.

Saat itu, Federal Reserve Bank of New York melakukan pengecekan nilai tukar yang tidak lazim sebagai bagian dari persiapan untuk membantu Jepang menghadapi pelemahan yen.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Scott Bessent sekitar 10 kali, termasuk melalui pertemuan daring.

"Saat ia berkunjung ke Jepang pada Mei 2026, kami berdiskusi selama tiga setengah jam, termasuk saat makan malam," ujar Katayama saat mengumumkan intervensi bersama kedua negara.

Pertemuan tersebut berlangsung setelah Jepang melakukan intervensi besar-besaran pada akhir April hingga awal Mei 2026. Namun, langkah tersebut gagal untuk membalikkan tren pelemahan yen.

Usai pertemuan Mei 2026, Katayama mengatakan bahwa kedua negara terus berkoordinasi erat mengenai pasar valuta asing dan akan melanjutkan kerja sama tersebut.

Bessent juga menyatakan bahwa fundamental ekonomi Jepang tetap kuat dan tangguh sehingga pada akhirnya akan tercermin dalam nilai tukar yen.

Selain itu, ia kembali mendorong Bank of Japan (BOJ) untuk mempercepat kenaikan suku bunga. Menurutnya, laju normalisasi kebijakan moneter yang terlalu lambat berisiko membuat BOJ tertinggal dalam mengendalikan inflasi.

Sebulan kemudian, BOJ menaikkan suku bunga acuan menjadi 1%, level tertinggi dalam 31 tahun. Meski demikian, langkah tersebut belum mampu memberikan dorongan yang berkelanjutan bagi yen karena suku bunga riil Jepang masih berada di wilayah negatif.

Intervensi Disiapkan

Dengan yen yang sempat menyentuh level terendah dalam empat dekade, diplomat mata uang utama Jepang, Atsushi Mimura, disebut mengubah strategi.

Alih-alih terus mengeluarkan peringatan kepada pelaku pasar, Mimura lebih banyak melakukan koordinasi tertutup dengan pejabat AS, menurut dua sumber yang mengetahui proses tersebut.

Strategi tersebut membuat peluang intervensi semakin sulit diprediksi pasar. Mimura tetap menjaga profil rendah bahkan ketika Katayama dan Bessent menggelar pertemuan virtual pada akhir Juni untuk membahas perkembangan pasar keuangan.

Tekanan untuk bertindak semakin besar pada Juli setelah kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal dan moneter ekspansif pemerintahan Takaichi kembali menekan yen.

Pelemahan mata uang itu mendorong kenaikan harga impor sekaligus menurunkan tingkat persetujuan publik terhadap pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah AS juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut memperkuat insentif Washington untuk mendukung langkah Jepang menstabilkan pasar.

Laporan semesteran Departemen Keuangan AS yang dirilis pada 24 Juli 2026, turut menyoroti kekhawatiran Jepang terhadap volatilitas yen dan menegaskan komitmen kedua negara untuk terus berkonsultasi mengenai kebijakan nilai tukar.

Menurut sumber Reuters, kampanye intervensi Jepang juga dikoordinasikan secara erat dengan BOJ.

Pada 30 Juli 2026, Mimura memberi lampu hijau untuk membeli yen menggunakan dolar AS. Keputusan tersebut diambil melalui sambungan telepon bersama sejumlah pejabat divisi valuta asing Kementerian Keuangan Jepang.

Intervensi tersebut langsung mendorong yen menguat ke level 157,80 per dolar AS dari sekitar 162,80 per dolar AS.

Ketika seorang staf melaporkan yen mulai kembali melemah mendekati level 158 per dolar AS, Mimura hanya menjawab, "Baik. Kita berkumpul lagi besok."

Tak lama setelah Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, menyampaikan konferensi pers pada Jumat (31/7) bahwa yen kembali melonjak. Pelaku pasar menduga Tokyo kembali melakukan intervensi, kali ini bersama Washington.

Menurut sumber Reuters, Departemen Keuangan AS telah memberi tahu sejumlah bank agar bersiap menghadapi kemungkinan intervensi lanjutan di pasar yen.

Foto Reuters dari rapat kabinet AS pada Jumat juga memperlihatkan catatan milik Bessent yang bertuliskan "To Do" dengan salah satu poin berbunyi "Buy Japanese Yen (JPY) US$5-10 bil."

Peluang September

Reuters menilai komunikasi BOJ mengenai arah kebijakan suku bunga pekan lalu menjadi yang paling hawkish sejauh ini.

Dalam konferensi pers, Ueda menegaskan bank sentral perlu lebih waspada terhadap risiko kenaikan inflasi. Pernyataan tersebut ditafsirkan oleh banyak analis sebagai sinyal kuat bahwa BOJ berpeluang menaikkan suku bunga pada September mendatang.

Sikap tersebut juga mendapat dukungan dari Washington.

"Kami sangat mendukung langkah tegas Jepang di pasar valuta asing dan kebijakan moneternya untuk mengoreksi pelemahan yen yang berlebihan," tulis Bessent melalui platform X.

Mimura juga mengatakan bahwa kebijakan nilai tukar pemerintah akan diselaraskan dengan kebijakan moneter BOJ, sehingga semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Bessent menambahkan dirinya akan bertemu Ueda pada pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di Amerika Serikat pada akhir Agustus. Pertemuan tersebut akan digelar menjelang rapat kebijakan BOJ pada 17-18 September 2026.

Pasar kini semakin yakin BOJ akan menaikkan suku bunga pada September mendatang.

"Karena Jepang berhasil menahan pelemahan yen dengan dukungan Amerika Serikat, kini muncul pertanyaan apakah BOJ masih bisa menunda kenaikan suku bunga pada September," kata ahli strategi obligasi Okasan Securities, Yuki Kimura.

Sementara itu, Kepala Strategi Obligasi Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, Naomi Muguruma, menilai kenaikan suku bunga pada September hampir tidak terhindarkan.

"Intervensi hanya mampu memperlambat pergerakan nilai tukar untuk sementara. Agar yen benar-benar stabil, BOJ kemungkinan perlu menaikkan suku bunga lebih cepat," ujarnya. "Saya melihat kenaikan suku bunga pada September hampir pasti terjadi. Menunggu hingga Oktober hanya akan membuka peluang pelemahan yen kembali." (ARF)

Tambahkan
sebagai sumber pilihan di Google