SHANGHAI — Tesla dilaporkan tengah mempertimbangkan pemisahan bisnisnya di China sebagai langkah yang dapat membuka jalan bagi potensi merger dengan SpaceX.

Dikutip dari Reuters, dari seorang sumber yang mengetahui perihal tersebut. Hingga berita ini ditulis, Tesla maupun SpaceX belum memberikan tanggapan.

Pabrik Gigafactory Shanghai mulai beroperasi pada Oktober 2019. Fasilitas tersebut menjadi pabrik mobil pertama di China yang sepenuhnya dimiliki investor asing sekaligus menandai keterbukaan sektor otomotif di negara tersebut.

Sejak saat itu, Gigafactory Shanghai berkembang menjadi fasilitas produksi terbesar dan paling produktif milik Tesla di dunia. Pabrik tersebut juga menjadi pusat ekspor utama Tesla untuk pasar Eropa, Kanada, dan kawasan Asia-Pasifik.

Gigafactory Shanghai memproduksi sedan Model 3 dan SUV Model Y. Berdasarkan data perusahaan, kapasitas produksinya mencapai lebih dari 950.000 unit kendaraan per tahun.

Vice President External Relations Tesla China, Grace Tao, mengatakan pabrik Shanghai menyumbang lebih dari separuh pengiriman kendaraan Tesla secara global pada 2025. Selain di Shanghai, Tesla juga memiliki fasilitas perakitan kendaraan di California, Texas, dan Berlin.

Tesla memperoleh lebih dari 95% komponen kendaraan yang diproduksi di China dari pemasok lokal. Perusahaan bekerja sama dengan lebih dari 400 pemasok domestik, dan lebih dari 60 di antaranya juga memasok komponen untuk operasi Tesla di negara lain.

Lokalisasi rantai pasok tersebut membantu Tesla menekan biaya produksi sekaligus mengurangi dampak gangguan logistik global.

Pengiriman kendaraan Tesla buatan China meningkat selama delapan bulan berturut-turut hingga Juni 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh permintaan dari pasar ekspor, termasuk Eropa. Sepanjang kuartal II 2026, penjualan pabrik Shanghai, termasuk ekspor, tumbuh sekitar 33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu

Produksi lokal membantu Tesla menguasai pasar kendaraan listrik premium di China pada masa awal ekspansinya. Pada 2025, China menjadi pasar terbesar kedua Tesla setelah Amerika Serikat berdasarkan pendapatan. Sementara itu, Model Y buatan Shanghai menjadi salah satu mobil penumpang terlaris di China, tanpa memandang jenis bahan bakarnya.

Meski demikian, persaingan di pasar kendaraan listrik China semakin ketat sejak Tesla masuk ke negara tersebut pada 2019. Produsen lokal berhasil memperkecil kesenjangan teknologi, didukung oleh rantai pasok yang terintegrasi, siklus pengembangan produk yang lebih cepat, serta strategi harga yang agresif.

BYD kini menjadi salah satu pesaing utama Tesla di pasar kendaraan listrik. Persaingan juga datang dari produsen China lainnya, seperti Xiaomi, Xpeng, dan Li Auto. (ARF)

Tambahkan
sebagai sumber pilihan di Google