AS disebut gunakan euro untuk intervensi yen, mengapa?
NEW YORK — Departemen Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) diduga menggunakan euro, bukan dolar AS, untuk membeli yen dalam intervensi pasar valuta asing.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya mendukung penguatan yen tanpa melemahkan dolar AS maupun mengganggu kebijakan dolar kuat yang selama ini diusung Washington.
Dikutip dari LuxembourgTimes, setidaknya dua bank besar di Amerika Serikat diminta oleh Federal Reserve Bank of New York untuk mengecek nilai tukar yen terhadap euro pada Jumat (1/8). Menurut laporan Bloomberg, langkah tersebut mengindikasikan adanya transaksi pembelian yen menggunakan euro.
Financial Times sebelumnya juga melaporkan bahwa Federal Reserve Bank of New York menjual euro untuk membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS.
Analis senior Crédit Agricole CIB, David Forrester, menilai pemerintah AS kemungkinan sengaja menghindari penjualan dolar secara langsung.
"AS kemungkinan tidak ingin terlihat menjual dolar AS. Mereka tetap mempertahankan kebijakan dolar kuat dan tentu tidak ingin dianggap sengaja melemahkan mata uangnya demi memperoleh keuntungan kompetitif. Langkah seperti itu bertentangan dengan kesepakatan negara-negara G20 mengenai nilai tukar," ujarnya.
Menurut para analis, penggunaan euro dalam intervensi kali ini berbeda dengan praktik sebelumnya. Pada intervensi terdahulu, Amerika Serikat umumnya langsung menggunakan dolar AS untuk masuk ke pasar.
Euro sendiri merupakan mata uang yang paling banyak diperdagangkan kedua di dunia setelah dolar AS. Berdasarkan Survei Tiga Tahunan Bank Sentral yang dirilis Bank for International Settlements (BIS), pangsa euro mencapai sekitar 29% dari total transaksi pasar valuta asing global senilai US$9,6 triliun per April 2025.
Analis mata uang Bank of New Zealand, Jason Wong, menilai penggunaan euro membuat intervensi terlihat lebih halus meski pada akhirnya dampaknya tetap serupa.
"Departemen Keuangan AS tentu tidak ingin terlihat menjual dolar sehingga memilih menggunakan euro. Pada akhirnya, efeknya tetap sama karena pada suatu titik mereka kemungkinan akan kembali mengalokasikan dana ke euro, yang bisa berarti menjual dolar, tetapi dengan cara yang tidak terlalu terlihat," katanya.
Sejak Jepang memulai intervensi mata uang pada 30 Juli, euro melemah terhadap sebagian besar mata uang utama kelompok G10. Nilai euro turun sekitar 4% terhadap yen, sementara Indeks Euro Bloomberg terkoreksi 0,2% pada Senin meski masih berada di dekat level tertinggi sejak 17 Juni.
Sementara itu, analis JPMorgan Chase, Junya Tanase dan Patrick Locke, menilai tujuan utama intervensi tersebut adalah membantu Jepang menahan pelemahan yen, bukan untuk melemahkan dolar AS.
Mereka juga menilai langkah tersebut masih sejalan dengan komposisi cadangan devisa Amerika Serikat. Di luar emas dan Special Drawing Rights (SDR), cadangan devisa AS memang didominasi oleh aset dalam mata uang euro dan yen sehingga intervensi tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari pengelolaan cadangan devisa sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar yen. (ARF)